Monday, December 27, 2010 08:52:54

Boxing Day and Life

My life, idea, and everything on my brain damage  
Setiap tahun bagi umat kristiani akan merayakan hari raya Natal. Salah satu acara yang ditunggu adalah acara Boxing Day (= tanggal 26 Desember / hari setelah hari natal). Pada hari itu ada pembagian / tukar menukar kado natal, karena itu dinamain boxing day ( box = kotak ).

Acara seperti itu juga marak di Indonesia ini walau kadang tidak bertepatan harinya di tanggal 26 Desember. Ada yang mengadakan tukar menukar kado di dalam keluarga atau di mall mall, Sinterklas membagi bagi kado kepada anak anak.

 

Ada satu yang mengelitik hati, saat memperhatikan wajah dan raut ketika menerima kado natal tersebut. Ketika kado yang didapat memiliki fisik yang lebih besar dari kado yang diterima temannya ada sesungging senyum kemenangan disitu atau merasa lebih beruntung banyak tampak dari wajah penerima kado yang besar.

 

Dalam analogik kehidupan yang kita alami, hal seperti itu sebenarnya wajar bagi kita untuk menginginkan hadiah yang terbaik bagi diri kita sendiri, tapi kadang hal itu merupakan sumber masalah dan tekanan hidup yang kita alami. Yang kita inginkan sebenarnya adalah makna kebersamaan, bukanlah besar kecilnya kado, namun secara sadar kita menginginkan hadiah yang terbaik dan termahal dan mulai melirik hadiah kado yang didapat orang lain.

 

"Kehidupan ini bagaikan sebuah makna dari natal, sedangkan karir, pekerjaan, uang, dan kedudukan dalam masyarakat adalah kado." Seringkali, karena fokus kita hanya pada besar kecilnya kado yang diterima, kita gagal untuk menikmati kebahagiaan natal yang Tuhan sediakan bagi kita. Besar kecilnya kado yang kita dapat tidak akan menggantikan kualitas kehidupan yang kita  hadapi dan tinggalin ini.

 

Tuhan mencarikan kado, membungkus dan menjadikannya sebuah kado buat kita. Jadi seharusnya kita menikmati hadiah kado yang diberikan, bukan iri atau kecewa akan isi dari kado itu.

 

Mari menyadari kehidupan ini lebih penting dari pekerjaan, Jika pekerjaan telah membatasi kita dan mengendalikan hidup kita. Maka kita menjadi orang yang mudah diserang dan rapuh akan perubahan keadaan yang mungkin lebih buruk dari yang pernah kita alami. Pekerjaan toh akan datang dan pergi, tapi apakah itu perlu sampai membuat jati diri kita sebagai manusia harus berubah sifat dan perilaku? .

 

Refleksi pribadi @2010


Permalink logo del.icio.usadd to del.icio.us | view as pdfview as pdf